Pandemi COVID-19 telah mengubah wajah bisnis online di seluruh dunia, menempatkan kepercayaan sebagai salah satu elemen terpenting dalam interaksi digital. Ketika pandemi memaksa banyak negara untuk memberlakukan lockdown dan pembatasan sosial, masyarakat di seluruh dunia beralih ke platform online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari belanja kebutuhan pokok hingga hiburan. Dengan peningkatan pesat dalam aktivitas online, faktor kepercayaan menjadi krusial, karena konsumen menginginkan jaminan bahwa mereka dapat mengandalkan platform tersebut untuk mengirimkan barang sesuai harapan.
Secara global, pasar e-commerce mengalami lonjakan signifikan selama masa pandemi. Pada tahun 2020, pasar e-commerce global tercatat mencapai nilai lebih dari 4,2 triliun dolar AS, meningkat sekitar 25% dari tahun sebelumnya. Ini menandai salah satu pergeseran paling drastis dalam perilaku konsumen yang pernah terjadi. Namun, seiring dengan peningkatan permintaan, muncul kekhawatiran mengenai keamanan transaksi, otentisitas produk, dan kualitas layanan. Konsumen, yang sebelumnya mungkin enggan atau ragu untuk bertransaksi online, mulai mengharapkan pengalaman yang lebih dapat dipercaya dari platform digital yang mereka gunakan.
Salah satu aspek yang paling berubah selama pandemi adalah ekspektasi konsumen terhadap transparansi dan keandalan. Misalnya, dalam hal pengiriman barang, konsumen ingin tahu dengan jelas kapan pesanan mereka akan sampai, bagaimana kondisi produk saat pengiriman, dan apakah proses pengiriman tersebut mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Hal ini memaksa banyak platform e-commerce dan perusahaan logistik untuk lebih terbuka tentang proses operasional mereka. Brand-brand seperti Amazon dan Alibaba dengan cepat beradaptasi dengan menyediakan update pengiriman yang lebih real-time dan menawarkan jaminan terhadap kualitas produk, untuk memastikan bahwa barang yang dibeli konsumen sesuai dengan deskripsi.
Tidak hanya itu, COVID-19 juga memicu peningkatan penggunaan sistem ulasan pelanggan (customer reviews). Sebelum pandemi, ulasan pelanggan telah menjadi bagian penting dari pengalaman belanja online, namun kini ulasan ini memiliki bobot yang lebih besar dalam keputusan pembelian. Ulasan tidak lagi sekadar memberikan gambaran tentang kualitas produk, tetapi juga tentang pengalaman belanja keseluruhan, termasuk layanan pelanggan, kecepatan pengiriman, dan apakah perusahaan tersebut mematuhi standar keamanan yang baru. Konsumen sekarang lebih mengandalkan pengalaman orang lain sebelum melakukan transaksi, dan ini menambah tekanan bagi perusahaan untuk memberikan layanan terbaik agar mendapatkan ulasan positif.
Di sisi lain, tren ini juga menciptakan tantangan bagi bisnis yang baru berkembang. Bagi perusahaan kecil atau startup yang baru memasuki pasar, mereka harus bekerja lebih keras untuk membangun reputasi yang dapat dipercaya di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat. Dalam situasi ini, kolaborasi dengan platform yang sudah memiliki reputasi baik, seperti Shopee di Asia Tenggara atau eBay di Amerika Serikat, menjadi strategi yang efektif untuk meraih kepercayaan konsumen lebih cepat.
Pasar global juga melihat adanya peningkatan dalam permintaan produk-produk yang secara langsung berkaitan dengan kesehatan dan kebersihan, seperti masker, pembersih tangan, dan produk sanitasi lainnya. Konsumen ingin memastikan bahwa produk-produk tersebut aman dan efektif, yang berarti mereka akan mencari brand yang sudah terbukti memiliki reputasi baik. Hal ini membuat perusahaan-perusahaan yang sebelumnya mungkin tidak berfokus pada kategori produk kesehatan harus menyesuaikan diri dengan perubahan permintaan pasar.
Selain itu, banyak perusahaan teknologi mulai mengembangkan fitur-fitur yang dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dalam bertransaksi online. Misalnya, berbagai platform pembayaran digital seperti PayPal dan Stripe memperkuat sistem keamanan mereka untuk melindungi konsumen dari potensi penipuan. Langkah-langkah ini termasuk verifikasi dua langkah, enkripsi data yang lebih kuat, serta kebijakan pengembalian dana yang lebih ramah pengguna. Di beberapa negara, pemerintah juga ikut berperan dengan memperkenalkan regulasi baru yang dirancang untuk melindungi konsumen dari praktik perdagangan online yang tidak etis.
Perubahan ini juga terlihat dalam sektor logistik, di mana perusahaan seperti DHL dan FedEx mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel dan transparan dalam menangani pengiriman barang. Mereka menyediakan opsi pengiriman yang lebih bervariasi dan memungkinkan konsumen untuk melacak paket mereka secara lebih detail. Selain itu, protokol kesehatan yang ketat selama proses pengiriman telah menjadi standar baru untuk menjamin bahwa paket yang diterima aman dari risiko kontaminasi. Ini menambah lapisan kepercayaan bagi konsumen yang khawatir dengan potensi penyebaran virus melalui produk yang mereka beli.
Dengan semakin banyaknya konsumen yang beralih ke belanja online, brand besar pun merespon dengan cara membangun ekosistem yang lebih berbasis pada komunitas. Contohnya, beberapa brand mewah seperti Louis Vuitton dan Gucci, yang sebelumnya sangat fokus pada pengalaman belanja fisik, mulai menawarkan pengalaman belanja online yang lebih personal. Mereka menyediakan layanan pelanggan 24/7 dan memperkenalkan inisiatif sustainability yang transparan, yang semakin meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap brand mereka. Brand-brand ini juga memanfaatkan platform media sosial dan influencer untuk memperkuat hubungan dengan konsumen dan menunjukkan bahwa mereka peduli terhadap isu-isu yang penting bagi pelanggan mereka.
Pandemi juga mempercepat adopsi teknologi baru, seperti augmented reality (AR) dan virtual reality (VR), yang memungkinkan konsumen untuk “mencoba” produk secara virtual sebelum melakukan pembelian. Teknologi ini tidak hanya memberikan pengalaman belanja yang lebih interaktif, tetapi juga menambah tingkat kepercayaan, karena konsumen dapat melihat lebih jelas bagaimana produk tersebut akan terlihat atau berfungsi dalam kehidupan nyata.
Secara keseluruhan, dampak COVID-19 terhadap bisnis online telah menciptakan lanskap di mana kepercayaan menjadi mata uang utama. Konsumen saat ini tidak hanya mencari produk dengan harga terbaik, tetapi juga mencari pengalaman belanja yang aman, transparan, dan andal. Di masa depan, perusahaan yang mampu mempertahankan dan meningkatkan tingkat kepercayaan ini akan berada di posisi yang lebih baik untuk berkembang di pasar global yang semakin kompetitif. Bisnis online yang mengutamakan kepercayaan akan memiliki peluang yang lebih besar untuk mempertahankan pelanggan setia dan menarik pelanggan baru, terutama di era digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian ini.
Mengapa setelah covid bisnis online dan jasa pengiriman dari luar negri semakin berkembang?
Setelah pandemi COVID-19, bisnis online dan jasa pengiriman dari luar negeri mengalami perkembangan yang pesat, dipicu oleh berbagai faktor yang mengubah cara konsumen berbelanja dan mengakses produk dari seluruh dunia. Salah satu alasan utama mengapa sektor ini berkembang pesat adalah perubahan signifikan dalam kebiasaan konsumen. Pandemi memaksa banyak orang untuk tetap di rumah dan menghindari interaksi fisik di tempat-tempat umum, seperti pusat perbelanjaan. Hal ini memicu lonjakan drastis dalam e-commerce, yang didukung oleh meningkatnya akses internet dan teknologi yang memungkinkan belanja daring menjadi lebih mudah dan nyaman. Secara global, nilai pasar e-commerce diperkirakan akan mencapai lebih dari $5 triliun pada tahun 2023, dengan pertumbuhan yang sangat pesat di pasar negara berkembang seperti Asia Tenggara dan Amerika Latin.
Pertumbuhan pesat e-commerce juga memperluas jangkauan layanan pengiriman internasional. Sebelum pandemi, banyak konsumen yang mungkin enggan berbelanja dari luar negeri karena khawatir dengan biaya pengiriman yang tinggi, waktu pengiriman yang lama, atau potensi masalah bea cukai. Namun, pandemi memaksa perubahan dalam cara perusahaan logistik bekerja, dengan semakin banyak perusahaan seperti DHL, FedEx, dan UPS yang meningkatkan infrastruktur mereka untuk mendukung pengiriman lintas batas yang lebih cepat dan lebih efisien. Jasa pengiriman dari luar negeri kini semakin dapat diandalkan, dengan waktu pengiriman yang lebih singkat dan biaya yang lebih kompetitif. Misalnya, DHL telah memperluas jaringan globalnya dan meningkatkan teknologi pelacakan untuk mempermudah konsumen memantau pengiriman mereka secara real-time. Hal ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan konsumen, tetapi juga mempercepat adopsi belanja lintas batas.
Selain itu, tren berbelanja dari luar negeri didorong oleh adanya pilihan produk yang lebih luas dan harga yang lebih kompetitif. Banyak konsumen yang merasa bahwa produk-produk dari luar negeri, seperti barang elektronik, fashion, kosmetik, dan suplemen kesehatan, memiliki kualitas yang lebih baik atau harga yang lebih terjangkau dibandingkan produk lokal. Dengan meningkatnya platform e-commerce global seperti Amazon, eBay, dan Alibaba, konsumen kini memiliki akses yang lebih mudah ke produk-produk dari berbagai negara tanpa harus meninggalkan rumah mereka. Platform-platform ini juga sering menawarkan opsi pengiriman internasional dengan harga yang kompetitif, yang membuat konsumen semakin tertarik untuk berbelanja dari luar negeri. Di Indonesia, misalnya, produk-produk fashion dari AS dan Eropa menjadi sangat populer, dan sering kali barang-barang ini sulit ditemukan di pasar lokal.
Pandemi juga mempercepat digitalisasi dalam industri logistik. Perusahaan pengiriman kini menggunakan teknologi seperti otomatisasi gudang, kecerdasan buatan (AI), dan analitik data untuk mempercepat proses pengiriman dan mengurangi biaya operasional. Dengan adanya teknologi-teknologi ini, perusahaan dapat memprediksi permintaan pasar dengan lebih akurat, mengoptimalkan rute pengiriman, dan mengurangi kesalahan manusia dalam proses pengiriman. Sebagai contoh, Amazon menggunakan robotika di pusat distribusinya untuk mempercepat proses pemilahan dan pengemasan barang, yang memungkinkan mereka mengirimkan pesanan dalam waktu yang lebih cepat. Hal ini tidak hanya meningkatkan kepuasan pelanggan tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional bagi perusahaan pengiriman.
Dari segi dampak pasar global, perkembangan bisnis online dan jasa pengiriman dari luar negeri menciptakan peluang besar bagi negara-negara dengan infrastruktur logistik yang baik. Singapura, misalnya, telah menjadi pusat transit utama untuk pengiriman barang-barang dari seluruh dunia ke Asia Tenggara. Dengan posisi geografis yang strategis dan kebijakan perdagangan yang ramah, negara ini memfasilitasi aliran barang internasional dengan cepat dan efisien. Banyak perusahaan e-commerce global menggunakan Singapura sebagai hub logistik untuk mengirimkan produk ke negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Tren ini memperlihatkan bahwa negara-negara dengan infrastruktur logistik yang kuat dan kebijakan yang mendukung perdagangan internasional akan terus memainkan peran kunci dalam menggerakkan pertumbuhan e-commerce lintas batas.
Di sisi lain, pandemi juga memaksa bisnis kecil dan menengah (UKM) untuk beradaptasi dengan tren digital. Banyak UKM yang sebelumnya hanya beroperasi secara lokal, kini mulai menjual produk mereka secara global melalui platform e-commerce. Dalam konteks ini, jasa pengiriman internasional menjadi sangat penting bagi mereka untuk mencapai pasar yang lebih luas. Perusahaan logistik besar seperti FedEx dan UPS menawarkan solusi logistik end-to-end yang memungkinkan UKM mengirimkan produk mereka ke seluruh dunia dengan mudah. Hal ini memberikan peluang besar bagi bisnis kecil untuk bersaing di pasar global, yang sebelumnya mungkin hanya bisa diakses oleh perusahaan besar. Sebagai hasilnya, UKM kini dapat memperluas pangsa pasar mereka dan meningkatkan penjualan secara signifikan.
Di tengah pertumbuhan pesat ini, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi oleh industri pengiriman internasional. Salah satu tantangan terbesar adalah meningkatnya permintaan akan layanan pengiriman yang lebih cepat dan lebih ramah lingkungan. Konsumen saat ini semakin sadar akan dampak lingkungan dari pengiriman barang, terutama dalam hal emisi karbon dari transportasi udara dan darat. Oleh karena itu, perusahaan logistik harus mencari cara untuk mengurangi jejak karbon mereka, misalnya dengan menggunakan kendaraan listrik untuk pengiriman lokal atau mengadopsi bahan kemasan yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, permintaan untuk pengiriman dalam waktu yang sangat cepat, seperti same-day delivery, juga meningkatkan tekanan pada perusahaan logistik untuk terus berinovasi dalam efisiensi operasional mereka.
Secara keseluruhan, perkembangan bisnis online dan jasa pengiriman dari luar negeri setelah pandemi COVID-19 menunjukkan transformasi besar dalam industri perdagangan global. E-commerce telah menjadi pilar utama dalam ekonomi digital, dan perusahaan logistik berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ini. Dengan adopsi teknologi yang terus berkembang, peningkatan infrastruktur logistik, dan perubahan kebiasaan belanja konsumen, tren ini diprediksi akan terus berlanjut di masa depan. Bagi konsumen, akses yang lebih luas ke produk-produk dari seluruh dunia memberikan lebih banyak pilihan dan fleksibilitas dalam berbelanja, sementara bagi perusahaan, peluang untuk menjangkau pasar global semakin terbuka lebar.
Mengapa setelah pandemi covid bisnis e-commerce semakin berkembang?
Setelah pandemi COVID-19, bisnis e-commerce mengalami perkembangan yang signifikan di seluruh dunia. Pandemi mengubah perilaku konsumen secara mendasar, memaksa banyak orang untuk beralih ke platform online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik untuk produk kebutuhan pokok hingga barang mewah. Dengan pembatasan mobilitas yang ketat, e-commerce menjadi solusi utama bagi konsumen yang ingin berbelanja tanpa meninggalkan rumah. Pada tahun 2020 saja, nilai pasar e-commerce global mencapai lebih dari USD 4,2 triliun, menunjukkan peningkatan yang tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perusahaan-perusahaan seperti Amazon, Alibaba, dan Shopify meraup keuntungan besar karena lonjakan permintaan ini.
Di pasar global, transformasi menuju e-commerce didorong oleh sejumlah faktor. Salah satu yang paling signifikan adalah adopsi teknologi digital yang lebih cepat. Pandemi mempercepat digitalisasi, membuat lebih banyak orang terbiasa dengan belanja online. Pada tahun 2021, penetrasi internet global mencapai 63%, dengan lebih dari 4,9 miliar pengguna internet. Hal ini menciptakan pangsa pasar yang sangat besar bagi bisnis e-commerce. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, e-commerce tumbuh lebih dari 30% selama pandemi, mencapai nilai USD 791,7 miliar pada tahun 2020. Sementara itu, di kawasan Asia Tenggara, platform seperti Shopee dan Tokopedia mengalami lonjakan pengguna baru, dengan Shopee mencatat lebih dari 320 juta unduhan aplikasi pada tahun 2021.
Pandemi juga memengaruhi pola belanja konsumen. Sebelumnya, banyak orang mungkin ragu untuk membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari secara online, tetapi selama pandemi, perilaku ini berubah drastis. Produk-produk seperti makanan, obat-obatan, dan produk kebersihan menjadi yang paling banyak dicari di platform e-commerce. Menurut survei yang dilakukan oleh McKinsey pada tahun 2021, 75% konsumen AS mencoba belanja online untuk pertama kalinya selama pandemi, dan 87% dari mereka mengatakan akan terus melakukannya bahkan setelah pandemi berakhir. Hal serupa terjadi di negara-negara lain, di mana konsumen menjadi lebih terbiasa dengan kenyamanan berbelanja online.
Selain perubahan dalam perilaku konsumen, bisnis e-commerce juga mendapatkan dorongan dari adopsi pembayaran digital yang meningkat. Sebelum pandemi, banyak orang masih enggan menggunakan metode pembayaran digital karena masalah keamanan atau kebiasaan menggunakan uang tunai. Namun, pandemi membuat orang lebih sadar akan pentingnya transaksi tanpa kontak fisik. Menurut laporan dari World Bank, pembayaran digital global tumbuh lebih dari 40% selama tahun 2020, dengan adopsi cepat di pasar-pasar berkembang seperti India dan Indonesia. Di Indonesia sendiri, penggunaan e-wallet seperti GoPay dan OVO meningkat pesat, dengan jumlah transaksi mencapai lebih dari IDR 266 triliun pada tahun 2021.
Dalam hal tren, kita juga melihat lonjakan dalam jenis-jenis produk yang dibeli secara online. Kategori seperti fashion, elektronik, dan peralatan rumah tangga terus menjadi favorit konsumen. Namun, kategori baru seperti produk kesehatan, kebugaran, dan barang-barang ramah lingkungan mulai mendapatkan popularitas. Brand-brand yang sebelumnya hanya mengandalkan penjualan fisik mulai beralih ke model bisnis online. Sebagai contoh, Nike melaporkan pertumbuhan penjualan online lebih dari 82% selama tahun 2020, dan perusahaan tersebut memperkirakan bahwa setidaknya 50% dari total penjualannya akan datang dari kanal digital pada tahun 2025.
Pasar global e-commerce juga semakin dipenuhi oleh tren personalisasi dan pengalaman berbelanja yang lebih canggih. Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan analisis data digunakan untuk memberikan pengalaman yang lebih disesuaikan bagi setiap konsumen. Sebagai contoh, Amazon menggunakan AI untuk merekomendasikan produk yang relevan berdasarkan histori belanja konsumen, sementara platform seperti Zalora di Asia Tenggara menggunakan analitik data untuk mengidentifikasi tren fashion lokal dan mengoptimalkan inventaris mereka. Ini tidak hanya meningkatkan pengalaman berbelanja bagi konsumen, tetapi juga membantu bisnis meningkatkan efisiensi operasional.
Selain itu, banyak perusahaan yang memanfaatkan layanan logistik yang lebih canggih untuk mempercepat pengiriman barang. Layanan pengiriman same-day dan next-day semakin umum di banyak kota besar, memungkinkan konsumen mendapatkan barang mereka lebih cepat. Perusahaan seperti DHL, FedEx, dan UPS melihat lonjakan permintaan untuk layanan logistik e-commerce selama pandemi. Menurut laporan dari DHL, e-commerce global diperkirakan akan tumbuh lebih dari 16% setiap tahun hingga 2025, dengan volume pengiriman paket meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2019.
Dampak dari perkembangan ini juga dirasakan oleh pasar kerja. Banyak perusahaan yang mempekerjakan lebih banyak pekerja di bidang teknologi, logistik, dan layanan pelanggan untuk mendukung operasional e-commerce mereka. Di Amerika Serikat, sektor e-commerce menciptakan lebih dari 400 ribu pekerjaan baru selama pandemi. Di Indonesia, pemain e-commerce seperti Bukalapak dan Tokopedia juga meningkatkan kapasitas mereka dengan membuka ribuan lapangan kerja baru untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Namun, meskipun ada banyak keuntungan dari pertumbuhan e-commerce, ada juga tantangan yang dihadapi oleh bisnis dan konsumen. Salah satu tantangan terbesar adalah meningkatnya persaingan di pasar yang semakin jenuh. Banyak bisnis kecil yang kesulitan untuk bersaing dengan platform besar seperti Amazon atau Alibaba, yang memiliki sumber daya besar untuk mengembangkan teknologi dan strategi pemasaran mereka. Di sisi lain, konsumen juga dihadapkan pada masalah seperti penipuan online dan kualitas produk yang tidak sesuai dengan ekspektasi.
Selain itu, perkembangan e-commerce juga memengaruhi ekonomi global dalam berbagai cara. Di satu sisi, e-commerce memberikan kesempatan bagi bisnis kecil untuk menjangkau pasar internasional dengan lebih mudah. Namun, di sisi lain, adanya pergeseran dari belanja fisik ke online juga menyebabkan penurunan tajam dalam penjualan ritel di toko fisik, yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja di sektor ritel tradisional. Di beberapa negara, pemerintah mulai mengadopsi kebijakan untuk mengatur perdagangan digital dan memajukan infrastruktur digital guna mendukung pertumbuhan e-commerce.
Dengan melihat perkembangan ini, tidak mengherankan bahwa e-commerce akan terus tumbuh di masa depan. Menurut Statista, pasar e-commerce global diperkirakan akan mencapai nilai lebih dari USD 6,4 triliun pada tahun 2024. Pertumbuhan ini didorong oleh adopsi teknologi yang lebih luas, perubahan perilaku konsumen, dan peningkatan infrastruktur digital di seluruh dunia. Brand-brand yang mampu beradaptasi dengan tren ini dan memberikan pengalaman berbelanja yang lebih personal dan efisien akan menjadi pemenang dalam pasar yang semakin kompetitif.
Mengapa Anda harus mengirim dengan SindoShipping dan bagaimana perusahaan kami dapat membantu Anda dan bisnis Anda dalam mengirim barang dan produk Anda ke Indonesia?
Visi perusahaan kami adalah untuk membantu perusahaan di seluruh dunia agar dapat mengekspor produk mereka ke Indonesia dengan mudah dan memperluas pasar mereka secara global, terutama di Asia Tenggara. Indonesia adalah pasar internet terdepan dan ekonomi terbesar di kawasan ini, dan kami ingin mempermudah proses impor ke negara ini. Kami juga ingin membantu jutaan orang Indonesia untuk mengakses produk dari seluruh dunia melalui sistem pengiriman yang efektif.
Dengan dokumentasi dan perantara yang tepat, kami dapat membantu pelanggan kami mengirim beberapa kategori barang yang memiliki batasan terbatas ke Indonesia tanpa masalah langsung ke alamat pelanggan. Kami memahami proses dan regulasi impor, termasuk proses perpajakan impor.
SindoShipping telah mengkhususkan diri dalam pengiriman barang elektronik, produk teknologi tinggi, kosmetik, barang mewah, mainan, suplemen dan vitamin, fashion, tas dan sepatu, serta obat tradisional ke Indonesia sejak tahun 2014. Kami menawarkan akurasi pengiriman yang tinggi dan pelacakan langsung yang tersedia selama pengiriman lintas batas sehingga pelanggan dapat merasa aman dan nyaman dengan pengiriman mereka. Hubungi kami sekarang untuk detail lebih lanjut di 6282144690546 dan kunjungi situs kami di sindoshipping.com.





