Contact us now for any inquiry about shipment  click here

SindoShipping by Seeds (S) Int P/L Co Reg UEN 202523778K

SindoShipping is more than a courier. It’s the trusted logistics partner that powers Indonesia’s new wave of digital entrepreneurs. With a clean flat-rate model, a laser focus on cross-border pain points, and a digital-first outreach strategy, We are aiming to enable more local business in Indonesia.

We are cross-border logistics and e-commerce enabler that empowers Indonesian resellers, SMEs, and digital sellers to import products seamlessly from Singapore, USA, China, Korea, and other global trade hubs. We combine freight forwarding, warehousing, customs clearance, and last-mile delivery into a single affordable and transparent platform..

Pasar Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 270 juta penduduk, yang sebagian besar adalah generasi muda dengan daya beli yang terus meningkat. Namun, Apple, salah satu raksasa teknologi dunia, menghadapi berbagai tantangan untuk memperluas jejaknya di negara ini. Salah satu hambatan utama adalah regulasi ketat yang diberlakukan oleh pemerintah Indonesia, terutama terkait dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). TKDN mengharuskan produk elektronik memiliki komponen lokal minimal 30%, suatu tantangan besar bagi Apple yang selama ini mengandalkan rantai pasokan globalnya dan memproduksi perangkat secara terpusat di negara-negara seperti Tiongkok.

Meski permintaan terhadap produk Apple di Indonesia cukup tinggi, tantangan terkait regulasi telah membatasi jumlah produk resmi yang dapat dijual di pasar lokal. Apple terpaksa mengurangi volume distribusi resmi atau memanfaatkan distributor pihak ketiga, yang mengakibatkan harga produk Apple di Indonesia seringkali lebih mahal dibandingkan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Hal ini membuka peluang bagi pasar paralel dan grey market, di mana produk Apple dijual tanpa jaminan resmi. Keberadaan grey market ini menciptakan pengalaman konsumen yang tidak konsisten dan dapat merusak citra merek Apple di Indonesia dalam jangka panjang.

Dari sisi tren, Indonesia telah menunjukkan pertumbuhan pesat dalam penetrasi teknologi dan internet, didukung oleh peningkatan signifikan dalam adopsi smartphone. Namun, persaingan di pasar smartphone Indonesia sangat ketat, didominasi oleh merek-merek lokal dan regional seperti Oppo, Vivo, dan Xiaomi, yang menawarkan harga kompetitif dengan fitur unggulan yang disesuaikan untuk konsumen lokal. Keunggulan kompetitif ini sulit ditandingi oleh Apple, terutama dengan harga premiumnya yang jauh di atas rata-rata daya beli konsumen Indonesia. Selain itu, adanya ekosistem aplikasi Android yang mendominasi pasar Indonesia membuat konsumen lebih cenderung memilih perangkat Android daripada iPhone.

Bagi pasar global, tantangan Apple di Indonesia mencerminkan kesulitan yang dihadapi oleh banyak perusahaan multinasional dalam menavigasi kebijakan proteksionis negara-negara berkembang. Meskipun regulasi seperti TKDN bertujuan untuk mendorong industrialisasi lokal dan menciptakan lapangan kerja, regulasi ini juga dapat memperlambat masuknya teknologi mutakhir ke pasar. Akibatnya, konsumen lokal kehilangan akses mudah ke inovasi terbaru, yang dapat menghambat pertumbuhan digitalisasi di negara tersebut. Di sisi lain, pemerintah Indonesia berargumen bahwa kebijakan ini mendorong investasi asing langsung, seperti yang terlihat dalam upaya Apple untuk mendirikan pusat penelitian dan pengembangan di Indonesia sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi lokal.

Secara teknis, kesulitan memenuhi TKDN juga berasal dari sifat produk Apple yang sangat terintegrasi. Perangkat keras dan perangkat lunak Apple dirancang untuk bekerja secara sinergis, membuatnya sulit untuk mengganti komponen dengan produk lokal tanpa mengganggu kinerja dan kualitas. Selain itu, rantai pasokan global Apple yang sangat efisien tidak memungkinkan fleksibilitas besar untuk menyesuaikan produksi di tingkat lokal. Ini sangat kontras dengan strategi merek-merek lain yang lebih fleksibel dalam menyesuaikan produk mereka untuk pasar tertentu.

Dalam beberapa tahun terakhir, Apple juga menghadapi tekanan tambahan dari kebijakan e-commerce Indonesia, yang mewajibkan produk impor melewati proses bea cukai yang ketat. Hal ini berdampak pada waktu pengiriman dan meningkatkan harga akhir untuk konsumen. Sebagai perbandingan, merek-merek lokal dan regional dapat menawarkan layanan purna jual yang lebih baik dan pengiriman yang lebih cepat, memberikan mereka keunggulan kompetitif di pasar ini. Tren ini semakin diperkuat oleh program subsidi pemerintah untuk mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang semakin memperkuat posisi pemain lokal.

Namun demikian, dampak global dari tantangan Apple di Indonesia tidak dapat diabaikan. Indonesia adalah pasar strategis yang tidak hanya menawarkan potensi besar dalam hal penjualan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mendominasi pasar Asia Tenggara. Jika Apple gagal memperluas kehadirannya di Indonesia, ini dapat memberikan peluang bagi kompetitor global untuk mengambil pangsa pasar lebih besar di kawasan tersebut. Di sisi lain, kegagalan ini dapat memberikan sinyal negatif kepada investor global tentang kompleksitas regulasi di Indonesia, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi investasi asing secara keseluruhan.

Dari perspektif konsumen global, kesulitan Apple di Indonesia juga menunjukkan pentingnya memahami kebutuhan pasar lokal. Dalam kasus ini, konsumen Indonesia menunjukkan preferensi terhadap produk yang menawarkan nilai lebih dalam hal harga dan fitur. Apple, yang dikenal dengan ekosistem premiumnya, perlu mengembangkan strategi untuk menjembatani kesenjangan antara aspirasi konsumen dan keterbatasan regulasi. Salah satu solusinya mungkin adalah memperluas lini produk yang lebih terjangkau, seperti iPhone SE, yang dapat menarik konsumen di segmen menengah tanpa mengorbankan kualitas merek.

Dalam konteks yang lebih luas, kesulitan Apple di Indonesia mencerminkan tantangan yang lebih besar yang dihadapi oleh merek-merek teknologi premium di negara-negara berkembang. Sementara inovasi dan kualitas adalah daya tarik utama, keberhasilan di pasar ini sering kali bergantung pada kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan dinamika lokal, baik dalam hal regulasi maupun preferensi konsumen. Bagi Apple, kesuksesan di Indonesia bukan hanya soal penjualan, tetapi juga tentang memperkuat posisi merek di salah satu pasar yang paling menjanjikan di dunia.

Mengapa Apple lebih memilih Vietnam untuk menginvestasikan pusaat pembuatan produk Apple di Asia Tenggara di banding negara-negara lain nya?

Apple telah mengambil langkah strategis dengan memilih Vietnam sebagai pusat manufaktur utama di Asia Tenggara, melewatkan kandidat potensial lainnya di kawasan ini. Kehadiran Vietnam yang semakin menonjol dalam rantai pasok global berasal dari keunggulan kompetitifnya dalam hal biaya, kemampuan tenaga kerja, dan stabilitas politik. Dengan biaya tenaga kerja manufaktur yang sekitar 50% lebih rendah dibandingkan dengan Tiongkok, Vietnam menawarkan solusi yang efisien secara biaya bagi Apple, sambil tetap menjaga kedekatan dengan pasar utama Asia. Tenaga kerja muda Vietnam yang melek teknologi, diperkirakan mencapai 55 juta orang, sejalan dengan standar tinggi Apple dalam hal presisi dan kualitas, memastikan produksi perangkat ikoniknya berjalan lancar. Dengan memindahkan basis manufakturnya ke Vietnam, Apple juga mendiversifikasi rantai pasoknya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang mencerminkan visi strategis jangka panjangnya.

Vietnam telah menjadi magnet bagi perusahaan multinasional karena kebijakan perdagangan dan perjanjian perdagangan bebas (FTA) yang menguntungkan, menawarkan insentif pajak yang signifikan bagi para eksportir. Dengan lebih dari 15 perjanjian perdagangan bebas, termasuk Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan EU-Vietnam Free Trade Agreement (EVFTA), Vietnam menyediakan pintu gerbang bagi Apple untuk mengekspor produknya dengan tarif yang lebih rendah. Hal ini sangat menguntungkan karena Apple bertujuan menyederhanakan jaringan distribusi globalnya untuk mempertahankan harga yang kompetitif dan meningkatkan penetrasi pasar. Selain itu, perbaikan infrastruktur yang konsisten di Vietnam, seperti jaringan pelabuhan, jalan raya, dan kawasan industri yang berkembang, telah menciptakan ekosistem yang kondusif untuk manufaktur berteknologi tinggi, memungkinkan Apple mendirikan operasinya tanpa hambatan logistik yang signifikan.

Faktor penting lainnya yang membuat Vietnam menjadi pilihan utama adalah stabilitas politik dan ekonominya dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Sementara negara-negara seperti Indonesia dan Filipina menghadapi tantangan seperti fluktuasi kerangka regulasi dan aksi mogok tenaga kerja, Vietnam berhasil mempertahankan iklim investasi yang ramah dengan pemerintahan yang stabil. Stabilitas ini memastikan Apple dapat mempertahankan produksi tanpa gangguan, yang sangat penting untuk memenuhi permintaan global terhadap produknya. Pemerintah Vietnam juga proaktif dalam menarik investasi asing langsung (FDI) dengan menawarkan insentif seperti pembebasan pajak dan pengurangan biaya sewa lahan, menjadikannya tujuan yang menarik bagi raksasa teknologi seperti Apple.

Tren global menuju diversifikasi rantai pasok semakin memperkuat peran Vietnam dalam strategi manufaktur Apple. Perang dagang AS-Tiongkok dan gangguan akibat pandemi telah menyoroti risiko ketergantungan yang berlebihan pada satu lokasi manufaktur. Vietnam, dengan kedekatan geografisnya dengan Tiongkok, berfungsi sebagai pusat pelengkap yang memungkinkan Apple terus memanfaatkan ekosistem pasokan komponen Tiongkok yang kuat sambil mengurangi ketergantungan pada fasilitas manufaktur di sana. Diversifikasi strategis ini tidak hanya mengurangi risiko tetapi juga sejalan dengan tujuan Apple untuk mengurangi risiko operasinya di tengah skenario geopolitik yang tidak stabil.

Industri manufaktur elektronik Vietnam yang berkembang pesat juga menambah daya tariknya. Sebagai pengekspor ponsel pintar terbesar kedua di dunia, Vietnam telah membuktikan kemampuannya menangani manufaktur berteknologi tinggi. Perusahaan seperti Samsung telah menginvestasikan miliaran dolar di Vietnam, yang kini menjadi tempat lebih dari setengah produksi ponsel pintar global Samsung. Ekosistem yang sudah mapan ini memberikan Apple lingkungan manufaktur yang telah teruji dan dapat diandalkan, memastikan bahwa perusahaan dapat mencapai skala produksi dengan cepat. Selain itu, kehadiran industri pendukung seperti produksi semikonduktor dan pembuatan papan sirkuit cetak (PCB) mendukung kebutuhan Apple akan komponen berkualitas tinggi di kawasan yang sama, mengurangi waktu pengiriman dan biaya produksi.

Potensi pasar di Asia Tenggara adalah alasan lain yang membuat Apple memusatkan manufakturnya di Vietnam. Dengan populasi lebih dari 680 juta orang dan kelas menengah yang terus berkembang, kawasan ini mewakili peluang pertumbuhan yang signifikan bagi Apple. Vietnam sendiri memiliki tingkat penetrasi smartphone sebesar 74%, mencerminkan minat penduduknya terhadap teknologi dan perangkat premium. Dengan memproduksi di Vietnam, Apple tidak hanya mengurangi biaya tetapi juga membangun hubungan yang lebih kuat dengan pasar lokal, meningkatkan visibilitas merek dan loyalitas pelanggan. Keuntungan ganda dari efisiensi biaya dan akses pasar ini menegaskan mengapa Vietnam menonjol di antara negara-negara regional lainnya.

Keputusan Apple untuk berinvestasi besar-besaran di Vietnam juga mencerminkan pergeseran preferensi manufaktur global yang lebih luas. Ketika keberlanjutan lingkungan menjadi faktor penting bagi merek global, komitmen Vietnam terhadap energi hijau dan praktik berkelanjutan meningkatkan daya tariknya. Negara ini secara aktif bertransisi menuju sumber energi terbarukan, dengan 44% listriknya kini berasal dari tenaga surya dan angin. Komitmen global Apple untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2030 sejalan dengan inisiatif hijau Vietnam, menjadikannya kemitraan yang saling menguntungkan. Dengan memproduksi di Vietnam, Apple dapat memastikan bahwa tujuannya untuk keberlanjutan tercapai tanpa mengorbankan biaya atau efisiensi.

Faktor lain yang membedakan Vietnam dari tetangganya adalah kemampuannya untuk beradaptasi dan meningkatkan kapasitasnya guna memenuhi persyaratan kualitas ketat dari Apple. Sementara negara-negara seperti Thailand dan Malaysia memiliki sektor manufaktur yang mapan, pemerintah dan sektor swasta Vietnam telah menunjukkan kesediaan untuk berinvestasi dalam peningkatan keterampilan pekerja dan peningkatan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan industri berteknologi tinggi. Kemampuan adaptasi ini memastikan bahwa Apple dapat mengandalkan Vietnam untuk produksi jangka panjang perangkat canggihnya, termasuk iPhone, iPad, dan MacBook.

Dampak global dari pergeseran Apple ke Vietnam sangat luas. Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi Vietnam sebagai kekuatan manufaktur tetapi juga membentuk kembali rantai pasok global, mengurangi dominasi pusat tradisional seperti Tiongkok. Bagi pasar konsumen global, pergeseran ini berarti waktu pengiriman yang lebih cepat dan rantai pasok yang lebih tangguh, terutama dalam menghadapi gangguan yang tidak terduga. Selain itu, seiring dengan terus berkembangnya produksi Apple di Vietnam, perusahaan multinasional lainnya kemungkinan akan mengikuti, semakin memperkuat pertumbuhan ekonomi Vietnam dan memperkokoh perannya dalam rantai pasok teknologi global.

Pada akhirnya, keputusan Apple untuk memprioritaskan Vietnam sebagai pusat manufaktur di Asia Tenggara merupakan bukti pentingnya negara tersebut dalam ekonomi global. Dengan biaya tenaga kerja yang kompetitif, perjanjian perdagangan yang kuat, stabilitas politik, dan ekosistem manufaktur berteknologi tinggi yang mapan, Vietnam menawarkan perpaduan sempurna antara efisiensi biaya dan keunggulan strategis. Bagi Apple, langkah ini bukan hanya tentang pengurangan biaya tetapi juga tentang membangun rantai pasok yang tangguh dan terdiversifikasi yang dapat menopang operasinya di seluruh dunia di tengah lanskap geopolitik dan ekonomi yang terus berkembang. Efek domino dari keputusan ini sudah terlihat, memposisikan Vietnam sebagai pemain kunci dalam industri teknologi global sambil memberikan Apple keunggulan kompetitif dalam memenuhi permintaan yang terus meningkat akan produknya yang ikonik.

Bagaimana pemerintah Indonesia membatasi penjualan Apple di Indonesia karena tidak cukup nya investasi Apple di Indonesia dalam bidang produksi atau investasi dalam bidang lain nya?

Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah tegas dalam membatasi penjualan produk Apple di pasar domestik, sebuah kebijakan yang didasarkan pada kurangnya investasi Apple di Indonesia, baik dalam sektor produksi maupun bidang investasi lainnya. Langkah ini mencerminkan pendekatan yang berorientasi pada pembangunan ekonomi nasional melalui peningkatan investasi asing langsung (FDI). Kebijakan ini tidak hanya memengaruhi pangsa pasar Apple di Indonesia tetapi juga membawa dampak pada dinamika pasar elektronik global, mengingat Indonesia adalah salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara dengan populasi lebih dari 275 juta jiwa.

Sejak lama, Apple telah menjadi salah satu merek paling dominan di dunia, dengan produknya seperti iPhone, iPad, dan MacBook yang memiliki reputasi tinggi di kalangan konsumen kelas menengah atas. Namun, strategi bisnis Apple yang berpusat di negara-negara maju seringkali dianggap kurang relevan dengan kebutuhan negara berkembang seperti Indonesia. Dalam kasus ini, pemerintah Indonesia mengajukan syarat bahwa perusahaan yang ingin menjual produknya di negara tersebut harus memberikan kontribusi nyata dalam bentuk investasi atau transfer teknologi. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa kehadiran mereka memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian lokal.

Tantangan utama yang dihadapi Apple di Indonesia adalah regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Peraturan ini mengharuskan setiap perangkat elektronik yang menggunakan jaringan 4G atau 5G memiliki minimal 30% komponen lokal. Meski Apple telah mencoba mengakali aturan ini dengan menawarkan solusi berbasis software melalui iCloud, langkah ini dinilai tidak cukup signifikan oleh pemerintah. Sebagai perbandingan, pesaing seperti Samsung telah berinvestasi dalam mendirikan pabrik produksi di Indonesia, yang memberikan kontribusi langsung pada penciptaan lapangan kerja dan transfer teknologi. Langkah-langkah seperti ini meningkatkan daya saing mereka di pasar lokal dibandingkan Apple.

Berdasarkan data terbaru, pasar smartphone di Indonesia bernilai lebih dari USD 8 miliar pada tahun 2023, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 10%. Namun, pangsa pasar Apple di negara ini tetap di bawah 5%, jauh di bawah merek seperti Oppo, Vivo, dan Samsung. Kebijakan pemerintah ini berpotensi menurunkan pangsa pasar Apple lebih jauh, terutama jika mereka tidak segera menyesuaikan strategi bisnis mereka. Dengan populasi muda yang besar dan tingkat adopsi teknologi yang tinggi, Indonesia adalah pasar yang tidak dapat diabaikan. Sayangnya, pendekatan Apple yang kurang fleksibel membuat mereka kesulitan untuk bersaing secara efektif.

Selain dampak domestik, keputusan ini juga memiliki implikasi pada tingkat global. Indonesia adalah pasar strategis dalam ekosistem ekonomi Asia Tenggara, yang secara kolektif diproyeksikan menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia pada tahun 2050. Jika Apple gagal memenuhi persyaratan yang ditetapkan, mereka tidak hanya kehilangan akses ke pasar Indonesia tetapi juga berisiko kehilangan pijakan dalam rantai pasokan regional. Negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand telah menjadi basis produksi utama bagi banyak perusahaan teknologi, termasuk Apple. Namun, ketergantungan yang berlebihan pada lokasi produksi tertentu dapat membuat Apple rentan terhadap risiko geopolitik dan gangguan rantai pasokan.

Di sisi lain, langkah pemerintah Indonesia ini juga menciptakan peluang bagi merek-merek lokal untuk berkembang. Dengan berkurangnya dominasi merek global seperti Apple, perusahaan lokal memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan penetrasi pasar mereka. Selain itu, hal ini juga mendorong perusahaan internasional lainnya untuk meningkatkan investasi mereka di Indonesia guna menghindari hambatan regulasi yang serupa. Misalnya, Huawei dan Xiaomi telah berkomitmen untuk membangun fasilitas produksi dan pusat riset di Indonesia, yang tidak hanya meningkatkan daya saing mereka tetapi juga memperkuat hubungan mereka dengan pemerintah dan konsumen lokal.

Namun, pembatasan terhadap Apple juga memunculkan tantangan bagi konsumen Indonesia. Produk Apple sering kali dianggap sebagai simbol status dan kualitas premium. Dengan terbatasnya akses terhadap produk-produk ini, ada kemungkinan meningkatnya pasar gelap dan parallel import, yang pada akhirnya merugikan konsumen dan mengurangi pendapatan pajak pemerintah. Selain itu, konsumen kelas atas yang mengandalkan ekosistem Apple mungkin merasa frustrasi dengan kebijakan ini, terutama jika mereka harus mencari alternatif yang tidak sepadan dengan kebutuhan mereka.

Dari perspektif global, langkah Indonesia ini dapat menjadi preseden bagi negara-negara lain yang ingin mendorong investasi langsung asing yang lebih besar dari perusahaan multinasional. Dalam era di mana ketegangan perdagangan global meningkat, banyak negara mencari cara untuk melindungi pasar domestik mereka sambil tetap menarik investasi asing. Strategi ini mencerminkan pergeseran menuju pendekatan yang lebih seimbang antara keterbukaan pasar dan proteksionisme.

Bagi Apple, tantangan ini seharusnya menjadi panggilan untuk beradaptasi. Sebagai perusahaan dengan valuasi lebih dari USD 2 triliun, Apple memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi persyaratan investasi di Indonesia. Selain itu, meningkatkan investasi di pasar berkembang seperti Indonesia tidak hanya memperkuat posisi mereka di pasar lokal tetapi juga membantu mereka mendiversifikasi risiko bisnis secara global. Dengan membangun basis produksi atau pusat riset di Indonesia, Apple dapat menunjukkan komitmen mereka terhadap pertumbuhan ekonomi lokal sambil memperluas jaringan bisnis mereka.

Dalam konteks yang lebih luas, situasi ini mencerminkan dinamika baru dalam hubungan antara perusahaan multinasional dan negara berkembang. Negara-negara seperti Indonesia semakin berani menetapkan aturan yang menguntungkan ekonomi mereka sendiri, tanpa takut kehilangan daya tarik bagi investasi asing. Sementara itu, perusahaan multinasional harus belajar untuk lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan lokal. Dalam jangka panjang, pendekatan ini dapat menciptakan hubungan yang lebih saling menguntungkan antara perusahaan global dan negara tuan rumah.

Dengan demikian, kebijakan pemerintah Indonesia yang membatasi penjualan Apple adalah langkah strategis yang mencerminkan prioritas ekonomi nasional. Namun, keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah mengelola dampaknya terhadap konsumen dan mendorong merek-merek lain untuk meningkatkan investasi mereka. Di sisi lain, Apple perlu memanfaatkan peluang ini untuk berinovasi dan menyesuaikan strategi mereka agar tetap relevan di pasar yang terus berkembang. Kombinasi dari pendekatan yang strategis dan kolaboratif dapat menciptakan hasil yang positif bagi semua pihak yang terlibat.

Mengapa Anda harus mengirim dengan SindoShipping dan bagaimana perusahaan kami dapat membantu Anda dan bisnis Anda dalam mengirim barang dan produk Anda ke Indonesia?

Visi perusahaan kami adalah untuk membantu perusahaan di seluruh dunia agar dapat mengekspor produk mereka ke Indonesia dengan mudah dan memperluas pasar mereka secara global, terutama di Asia Tenggara. Indonesia adalah pasar internet terdepan dan ekonomi terbesar di kawasan ini, dan kami ingin mempermudah proses impor ke negara ini. Kami juga ingin membantu jutaan orang Indonesia untuk mengakses produk dari seluruh dunia melalui sistem pengiriman yang efektif.

Dengan dokumentasi dan perantara yang tepat, kami dapat membantu pelanggan kami mengirim beberapa kategori barang yang memiliki batasan terbatas ke Indonesia tanpa masalah langsung ke alamat pelanggan. Kami memahami proses dan regulasi impor, termasuk proses perpajakan impor.

SindoShipping telah mengkhususkan diri dalam pengiriman barang elektronik, produk teknologi tinggi, kosmetik, barang mewah, mainan, suplemen dan vitamin, fashion, tas dan sepatu, serta obat tradisional ke Indonesia sejak tahun 2014. Kami menawarkan akurasi pengiriman yang tinggi dan pelacakan langsung yang tersedia selama pengiriman lintas batas sehingga pelanggan dapat merasa aman dan nyaman dengan pengiriman mereka. Hubungi kami sekarang untuk detail lebih lanjut di 6282144690546 dan kunjungi situs kami di sindoshipping.com.

Blog

The blog is inspired by the luxury brand world knowledge and the information about shipping goods to Indonesia. With our expertise of shipping and the product knowledge, rest assured that your shipping are in the good hands.